Menu

Mode Gelap
Beredar Diduga Rekaman Percakapan Ridwan Kamil Dengan Lisa Mariana, Bahas Tes DNA Anak TNI dan Kekerasan: Peradilan Militer Dituding Tak Beri Efek Jera Toleransi Sebagai Pondasi Persatuan, GMKI Samarinda Serukan Aksi Nyata Akademisi Dukung Komitmen Polri dalam Penyelidikan serta Penyidikan Pilkada 2024 Semakin Dekat, Peradah Kaltim Meminta Masyarakat Tetap Bersatu di Tengah Perbedaan

Nasional · 8 Feb 2025 14:01 WIB ·

Kekhawatiran Terhadap RUU KUHAP, Kewenangan Kejaksaan Dinilai Berisiko Merusak Sistem Hukum


 Kekhawatiran Terhadap RUU KUHAP, Kewenangan Kejaksaan Dinilai Berisiko Merusak Sistem Hukum Perbesar

SAMARINDA – Di tengah intensnya perdebatan mengenai revisi KUHAP, Dr. Isnawati, S.H., M.H., dosen sekaligus ketua Program Studi S2 Fakultas Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap usulan penambahan kewenangan bagi Kejaksaan RI.

“Sistem Criminal Justice yang kita jalankan saat ini sudah efektif. Memberi kekuasaan lebih kepada satu lembaga saja justru berpotensi membuka celah abuse of power,” tegasnya dalam keterangan kepada media.

Menurut Dr. Isnawati, struktur penegakan hukum pidana di Indonesia saat ini telah terbukti berjalan dengan baik berdasarkan KUHAP lama. Ia menjelaskan bahwa pembagian peran antara Polri dan PPNS sebagai penyidik, Kejaksaan sebagai penuntut, serta pengadilan sebagai lembaga yang memberikan putusan, merupakan fondasi yang menjaga keseimbangan dalam sistem peradilan.

“Revisi KUHAP yang mengedepankan asas Dominus Litis untuk memberikan kewenangan lebih kepada Kejaksaan RI sangat berisiko mengaburkan batas peran aparat penegak hukum lainnya,” tambahnya.

Menurutnya, langkah tersebut bisa menimbulkan ketidakpastian dalam proses penyidikan dan mengganggu keadilan yang telah terbangun.

Dr. Isnawati menekankan bahwa perubahan sistem yang terlalu memusatkan kekuasaan tidak sejalan dengan prinsip keseimbangan yang harus dijaga dalam penegakan hukum pidana.

Ia pun berharap para pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan implikasi serius dari penambahan kewenangan tersebut sebelum melangkah lebih jauh dengan revisi KUHAP.

Pernyataan ini muncul di tengah dinamika wacana reformasi hukum yang tengah menjadi sorotan publik.

Para ahli dan praktisi hukum menilai bahwa setiap perubahan dalam sistem peradilan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas dan keadilan yang telah terbangun selama ini.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aksi Damai di Balikpapan Dorong Transparansi dan Pengawasan Program Pemerintah

28 Februari 2026 - 18:04 WIB

Supremasi Hukum Harga Mati! Baladika Kaltim Kawal Kasus hingga Tuntas

27 Februari 2026 - 22:56 WIB

Baladika Kaltim Kritik Keras Program MBG dan Soroti Koperasi Merah Putih

27 Februari 2026 - 18:34 WIB

Brimob Kaltim Turut Ambil Peran dalam Pemulihan Masjid Islamic Center Lhokseumawe

22 Februari 2026 - 21:14 WIB

Musmaseno Tegaskan Komitmen Banser Kutai Barat untuk Polri

17 Februari 2026 - 15:16 WIB

KOKAM Paser: Polri di Bawah Presiden Perkuat Keamanan Nasional

17 Februari 2026 - 15:08 WIB

Trending di Berita