KETAPANG –Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, upaya menjaga suasana kondusif di Kabupaten Ketapang kembali diperkuat melalui sebuah podcast bertema toleransi dan moderasi beragama.
Kegiatan yang diselenggarakan di Studio Medik TV, Jalan Sunan Kalijaga, Benua Kayong, Jumat (28/11/2025) malam menjadi ruang dialog terbuka untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang hidup rukun dalam keberagaman.
Podcast menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang, Ustad Faisol Maksum, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Ustad Hayadi Ridho’ie yang memandu jalannya dialog secara interaktif.
Dalam penyampaiannya, Ustad Faisol menegaskan bahwa menjaga suasana damai bukan hanya kewajiban aparat atau tokoh agama, tetapi peran kolektif seluruh warga Ketapang. Ia menilai, momentum hari besar keagamaan sering menjadi titik sensitif yang harus diantisipasi bersama.
“Moderasi beragama bukan hanya jargon, tetapi sikap sehari-hari yang harus diwujudkan dalam tindakan. Ketapang harus menjadi contoh daerah yang damai dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Ia turut mengingatkan bahwa nilai toleransi tidak boleh berhenti pada seruan, tetapi harus diterjemahkan menjadi perilaku saling menghormati dalam kehidupan sosial.
Selama berlangsung, diskusi berkembang dalam suasana produktif. Berbagai pandangan muncul mengenai pentingnya kolaborasi antara tokoh agama, aparat keamanan, dan masyarakat untuk mencegah potensi gesekan sosial.
Moderator Ustad Hayadi Ridho’ie juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan di level masyarakat agar nilai toleransi dapat semakin mengakar. Menurutnya, semakin sering ruang dialog dibuka, semakin kecil potensi kesalahpahaman antarumat beragama.
Menjelang akhir acara, podcast merumuskan satu poin penting dibutuhkan sinergi yang lebih erat antara tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk memperkuat perdamaian di Ketapang. Peran aktif para pemuka agama dinilai vital untuk menjaga stabilitas sosial pada momen perayaan akhir tahun.
Kegiatan kemudian ditutup dengan seruan bersama agar Ketapang terus menjadi daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, keharmonisan, dan saling menghargai antarumat beragama.















Tinggalkan Balasan